Like this ?

Rabu, 09 Mei 2012

Makalah komunikasi dalam proses keperawatan



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Semua individu mempunyai kebutuhan dasar untuk menjalin hubungan dengan orang lain dalam menjalani hidupnya. Komunikasi merupakan upaya individu dalam menjaga dan mempertahankan individu untuk tetap berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi seseorang adalah suatu proses yang melibatkan perilaku dan interaksi antar individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi sangat penting karena komunikasi merupakan alat dalam melaksanakan proses keperawatan. Dalam asuhan keperawatan, komunikasi ditujukan untuk mengubah perilaku klien dalam mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Sebagai ilmu komunikasi, individu diposisikan untuk menentukan potensi diri dalam melakukan komunikasi yang efektif. Untuk dapat melakukannya, individu tentu saja harus memiliki pemahaman dasar akan proses komunikasi dan bagaimana teori komunikasi berfungsi dalam hidup individu.



1.2 Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang menjadi pembahasan makalah ini adalah :
1.2.1        Apa pengertian komunikasi dalam proses keperawatan ?
1.2.2        Apa yang dimaksud dengan pengkajian dalam tahap proses keperawatan?
1.2.3        Apa yang dimaksud dengan diagnosa keperawatan dalam tahap proses keperawaatan?
1.2.4        Apa yang dimaksud dengan perencanaan dalam tahap proses keperawatan?
1.2.5        Apa yang dimaksud dengan implementasi atau pelaksanaan dalam tahap proses keperawatan?
1.2.6        Apa yang dimaksud dengan evaluasi dalam tahap proses keperawatan?
1.3 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan agar :
1.3.1        Untuk mengetahui pengertian komunikasi dalam proses keperawatan.
1.3.2        Mahasiswa dapat manambah pengetahuan tentang cara berkomunikasi yang baik dalam proses keperawatan yang baik.
1.3.3        Mahasiswa dapat mengetahui tahap – tahap proses keperawatan.
1.4 Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang kani susun dalam makalah ini bersumber dari buku - buku tentang Komunikasi Keperawatan dan hasil dari diskusi kelompok kami.


BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Komunikasi Dalam Proses Keperawatan
Komunikasi adalah suatu yang sangat penting dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Seorang perawat tidak akan dapat melaksanakan tahapan – tahapan proses keperawatan dengan baik bila tidak terjalin komunikasi yang baik antara perawat dengan klien, perawat dengan keluarga atau orang yang berpengaruh bagi klien, dan perawat dengan tenaga kesehatan lainnya
Proses keperawatan adalah metode sistematik dimana secara langsung perawat bersama klien mengidentifikasi dan menentukan masalah, merencanakan dan melaksanakan tindakan, serta mengevaluasi keberhasilan tindakan yang dilakukan kepada klien.
Kemampuan komunikasi yang baik dari perawat merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam melaksanakan proses keperawatan yang meliputi : Tahap pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.




2.2 Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dalam proses keperawatan. Pengkajian dilakukan oleh perawat dalam rangka pengumpulan data klien. Data klien diperoleh melalui wawancara (anamnesa), pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik (laboratorium,foto, dan sebagainya), informasi atau catatan dari tenaga kesehatan lain, dan dari keluarga klien.
Kemampuan komunikasi sangat mempengaruhi kelengkapan data klien. Untuk itu selain perlunya meningkatkan kemampuan komunikasi bagi perawat, kemampuan komunikasi klien juga perlu ditingkatkan. Perawat perlu mengetahui hambatan, kelemahan dan gaya klien dalam berkomunikasi. Perawat perlu memperhatikan budaya yang mempengaruhi kapan dan dimana komunikasi dilakukan, penggunaan bahasa, usia dan perkembangan klien.
Banyak hal yang dapat menjadi hambatan klien untuk mengirim atau memberikan informasi, menerima, dan memahami pesan yang diterima klien. Hambatan klien dalam berkomunikasi yang harus diperhatikan oleh perawat antara lain:
2.2.1        Language deficits
Perawat perlu menentukan bahasa yang dipahami oleh klien dalam berkomunikasi karena penguasaan bahasa akan sangat mempengaruhi persepsi dan interpretasi klien dalam menerima pesan secara adekuat’

2.2.2        Sensory deficits
Kemampuan mendengar, melihat, merasa dan membau merupakan faktor penting dalam komunikasi, sebab pesan komunikasi akan dapat diterima dengan baik apabila kemampuan sensori klien berfungsi dengan baik. Untuk klien yang mengalami kelemahan mendengar, maka ada tahapan yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengkajian, yaitu mencari kepastian medik yang mengindikasikan adanya kelemahan mendengar, memperhatikan apakah klien menggunakan alat bantu dengar yang masih berfungsi, memperhatikan apakah klien mampu melihat muka dan bibir kita saat berbicara, dan memperhatikan apakah klien mampu menggunakan tangannya sebagai bebtuk komunikasi nonverbal.
2.2.3        Cognitive impairrnents
Adalah suatu kerusakan yang melemahakan fungsi kognitif (misalnya pada klien CVA, Alzheimer`s, tumor otak) dpat mempengaruhi kemampuan klien dalam menggungkapkan dan memahami bahasa. Dalam mengkaji pada klien yang mengalami gangguan kognitif ini, perawat dapat menilai apakah klien merespon (baik respon verbal maupun nonverbal) ketika ditanya ?. Apakah klien dapat mengucapkan kata atau kalimat dengan benar?. Apakah klien dapat mengingat dengan baik ? dan sebagai.
2.2.4        Structural deficits
Adanya gangguan pada struktur tubuh terutana pada struktur yang berhubungan langsung dengan tenpat keluernya suara, misalnya mulut dan hidung akan dapat mempengaruhi terjadinya komunikasi.
2.2.5        Paralysis
Kelemahan yang terjadi pada klien terutama pada ekstremitas  atas akan menghambat kemampuan komunikasi klien baik melalui lisan maupun tulisan. Perawat perlu memperhatikan apakah ada kemampuan nonverbal klien yang bisa ditunjukkan alam rangka memberikan informasi kepada perawat. 
2.3 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data-data  yang didapatkan dalam tahap pengkajian. Perumusan diagnosa keperawatan merupakan hasil penilaian perawat dengan melibatkan klien, keluarga klien, dan tenaga kesehatan lainnya tentang masalah yang dialami klien. Proses penentuan masalah klien dengan melibatkan beberapa pihak tersebut adalah upaya untuk menvalidasi, memperkuat dan menentukan prioritas masalah klien engan benar. Penentuan diagnosis tanpa mengkomunikasikan kepada klien apat berakibat salahnya penilaian perawat terhadap masalah yang dialami klien. Sikap perawat yang komunikatif dan sikap klien yang kooperatif merupakan faktor penting  dalam penetapan diagnosa keperawatan yang tepat. Kemampuan komunikasi disini juga diperlukan dalam menulis analisis data yang didapat dari  pengkajian serta mendiskusikannya masalah yang ditemukan baik kepada klien, keluarga maupun kepada sesama perawat.   
2.4 Rencana keperawatan
Dalam mengembangkan rencan tindakan keperawatan kepada klien, interaksi dan komunikasi dengan klien sangatlah penting untuk menentukan pilihan rencana keperawatan yang akan dilakukan. Misalnya, sebelum perawat memberikan diet makanan bagi klien, perawat perlu mengetahui makanan pilihan, yang di sukai, atau yang alergi bagi klien sehingga tindakan yang dilakukan menjadi efektif. Rencana tindakan yang dibuat perawat merupakan media komunikasi antar petugas kesehatan sehingga perencanaan yang di susun perawat dinas pagi dapat di evaluasi atau di lanjutkan oleh perawat dinas sore dan seterusnya model komunikasi ini memungkinkan pelayanan keperawatan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan, terukur dan efektif.
            Pada tahap perencanaan ini, perawat harus menentukan prioritas masalah yang harus diselesaikan, merumuskan tujuan tindakan dan kriteria hasil (kriteria evaluasi). Rencana tindakan dibuat untuk mengatasu etiologi atau penyebab terjadinya masalah. Penentuan etiologi atau penyebab dari masalah klien memerlukan kecermatan dan pengetahuan yang lebih agar acuan dalam membuat rencana tindakan sesuai dengan sasaran. Kegagalan dalam menentukan etiologi dengan tepat akan berpengaruh terhadap rumusan tujuan tindakan keperawatan dan mengganggu  keberhasilan tindakan.


2.5 Tindakan keperawatan/implementasi
Tahap pelaksanaan merupakan realisasi dari perencanaan yang sudah ditentukan sebelumnya. Selama aktivitas pada tahap ini menuntut perawat untuk  terampil dalam berkomunikasi dengan klien. Umumnya ada 2 kategori aktivitas perawat dalam berkomunikasi, yaitu saat mendekati klien untuk membantu memnuhi kebutuhan fisik klien dan ketika klien mengalami masalah psikologis.
Tindakan komunikasi pada saat menghampiri klien :
2.5.1        Menunjukkan muka yang jujur dengan klien. Hal ini penting agar tercipta suasana saling percaya saat berkomunikasi.
2.5.2        Mempertahankan kontak mata dengan baik. Kesungguhan dan perhatian perawat dapat dilihat dari kontak mata saat berkomunikasi dengan klien.
2.5.3        Fokus kepada klien. Agar komunikasi dapat terarah dan mencapai tujuan yang diinginkan dalam melaksanakan tindakan keperawatan.
2.5.4        Mempertahankan postur yang terbuka. Sikap terbuka dari perawat dapat menumbuhkan keberanian dan kepercayaan klien dalam mengikuti tindakan keperawatan yang dilaksanakan.
2.5.5        Aktif mendengarkan eksplorasi perasaan klien sebagai bentuk perhatian, menghargai dan menghormati klien.crouch (2002) mengingatkan bahwa manusia mempunyai dua telinga dan satu mulut. Dalam berkomunikasi dia menyarankan agar tindakan komunikasi dilaksanakan dengan perbandingan 2:1, lebih banyak mendengar daripada bicara. Sikap ini akan mengingatkan kepercayaan klien kepada perawat.
2.5.6        Relatif  rilek saat bersama klien. Sikap terlalu tegang atau terlalu santai juga tidak membawa pengaruh yang baik dalam hubungan perawat - klien.
Pada tahap ini petugas kesehatan (perawat, bidan dll) juga harus meningkatkan kemampuan non verbalnya dengan “SOLER” yang merupakan kependekatan dari :
·       S – Sit (duduk) menghadap klien.postur ini memberi kesan bahwa perawat ada disana untuk mendengarkan dan tertarik dengan apa yang sedang dikatakan klien.
·      O – Observe (mengamati) suatu postur terbuka (yaitu menahan tangan dan lengan tidak menyilang). Postur ini menyatakan perawat “terbuka” terhadap apa yang dikatakan klien. Suatu posisi yang “tertutup” dapat menghambat klien untuk menyampaikan perasaannya.
·      L – Lean (mencondong kearah klien). Postur ini menyampaikan bahwa perawat terlibat dan tertarik pada interaksi yang sedang dilaksanakan.
·      E – Establish (melakukan dan menjaga kontak mata). Perilaku ini menyampaikan keterlibatan perawat dan kesediaan untuk mendengarkan apa yang klien sedang katakana. Ketidakhadiran kontak mata atau pergeseran mata member pesan bahwa perawat  tidaklah tertarik akan apa yang dikatakan klien.
·      R – Relax. Rileks adalah penting untuk mengkomunikasikan suatu perasaan atau kondisi yang nyaman dan harmonis dalam berkomunikasi dengan klien. Kegelisahan mengkomunikasikan adanyasuatu masalah yang dapat menimbulkan multi tafsir.
2.6      Evaluasi
Komunikasi antara perawat dan klien pada tahap ini adalah untuk mengevaluasi apakah tindakan yang telah dilakukan perawat atau tenaga kesehatan lain membawa pengaruh atau hasil yang positif bagi klien, sebagaimana kriteria hasil yang telah ditentukan pada tahap sebelumnya. Evaluasi yang dilaksanakan meliputi aspek kognitif, sikap dan ketrampilan yang dapat diungkapkan klien secara verbal maupun nonverbal. Pada tahap ini juga memberi kesempatan bagi perawat untuk melihat kembali tentang efektifitas rencana tindakan yang telah dilakukan.
Semua tahapan proses keperawatan tersebut diatas membutuhkan kemampuan komunikasi yang adekuat. Komunikasi merupakan kegiatan mengumpulkan, memadukan, menyamakan, dan menyalurkan informasi dalam pelayanan kesehatan.








BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan kemampuan komunikasi yang baik dari perawat dalam proses keperawatan merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam melaksanakan proses keperawatan yang meliputi : tahap pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Proses keperawatan adalah metode sistematik dimana secara langsung perawat bersama klien mengidentifikasi dan menentukan masalah, merencanakan dan melaksanakan tindakan, serta mengevaluasi keberhasilan tindakan yang dilakukan kepada klien.
Adapun tahap proses keperawatan yaitu :
3.1.1        Pengkajian
Merupakan tahap awal dalam proses keperawatan.
      3.1.2    Diagnosa keperawatan
Dirumuskan berdasarkan data – data yang didapatkan dalam tahap pengkajian.



3.1.3        Perencanaan
Dalam mengembangkan rencana tindakan keperawatan kepada klien, interaksi dan komunikasi dengan klien sangatlah penting untuk menetukan pilihan rencana keperawatan yang akan dilakukan.
3.1.4        Implementasi/pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan realisasi dari perencanaanyang sudah ditentukan sebelumnya.
3.1.5        Evaluasi
Komunikasi antar perawat dank lien pada tahap ini adalah untuk mengevaluasi apakah tindakan yang telah dilakukan perawat atau tenaga kesehatan lain membawa pengaruh atau hasil yang positif bagi klien, sebagai mana kriteria hasil yang telah ditentukan pada tahap sebelumnya.
3.2 Saran
Bagian akhir dari makalah ini, kami sarankan bahwa aturan komunikasi dalam proses keperawatan yang telah ditetapkan dapat dijalankan sesuai prosedurnya dan mahasiswa/i diharapkan dapat mempersiapkan diri dalam mengumpulkan, memadukan, menyamakan, menyalurkan informasi dalam pelayanan kesehatan dan meningkatkan kinerja dalam mewujudkan komunikasi yang adekuat sehingga mampu menjadi mahasiswa/i professional dalam berkomunikasi secara verbal maupun non verbal serta diharapkan memiliki pemahaman yang mendalam tentang tahap-tahap proses keperawatan dalam komunikasi proses keperawatan.
Daftar Pustaka

Arwani. 2002. Komunikasi Dalam Keperawatan. Jakarta : EGC
Baradero, Mary. 2006. Buku Saku Konseling Dalam Keperewatan. Jakarta : EGC
Mundakir. 2006. Komunikasi Keperawatan Aplikasi Dalam Pelayanan.
Yogyakarta : Graha Ilmu
Stephen W. Hulejohn, Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi.
Jakarta : Salemba Humanika
Suryani. 2005. Komunikasi Terapeutik. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar

☺ Thanks, udah berkunjung ☺