Like this ?

Rabu, 09 Mei 2012

MAKALAH MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL


MAKALAH
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL
SOSIOLOGI
Dosen : Hermanto Amd, Kep



 







Kelompok 1
1.     Ade Saputra
2.     Candra Wiratama
3.     Dony Chandra
4.     Jesika Febriana
5.     Oscariando Peteh
6.     Selsia Dwi Cahyani

Yayasan Eka Harap Palangkaraya
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Prodi D-III Keperawatan
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat karunia-Nya makalah ini dapat diselesaikan dengan semestinya.
Makalah tentang “Manusia Sebagai Makhluk Sosial“ ini membantu kita agar bisa memahami tentang kelompok masyarakat.
Penulis sangat berterima kasih kepada Bapak Hermanto, Amd, Kep yang sudah mengajarkan materi ini kepada kami. Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk kami menjadi lebih baik lagi dalam membuat karya ilmiah kepada masyarakat.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua. Atas kerjasama dari semua pihak baik dari dalam kampus maupun dari pihak luar penulis ucapkan terimakasih.


                                                                             Palangaka raya,    April 2012


                                                                             Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.latar Belakang
Manusia adalah makhluk multi dimensional, yaitu sebagai personal/individual, social-komunial, dan spiritual-kosmological. Dari kehidupan ini, muncul konteks mikrokosmos( pribadi ) dan makrokosmos (alamsemesta ). Polaritas( pemilahan ) manusiaberanekaragam, yaitujasmani-rohani, sacral-profan, natural-nurture.
Masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu sama lain. Bentuk organisasi ini, bercorak formal (organisasi social seperti karang taruna, desa, dan keluarga )danfungsional ( seperti masyarakat dayak, jawa ). Masyarakat merupakan
suatu kelompok manusia yang dibawah tekanan serangkaian kebutuhan dan dibawah pengaruh seperangkat kepercayaan, ideal dan tujuan, tersatukan dan terlebih dalam suatu rangkaian kesatuan kehidupan bersama.
Suatu kelompok individu disebut masyarakat ketika memiliki unsur-unsur dasar sebuah masyarakat, yaitu:
a.       Interaksi antar-individu. Interaksi atau hubungan timbale balik antara satu orang dengan orang lain dapat ditunjukkan dengan adanya tindakan yang saling berkaitan antara seseorang yang berprofesi sebagai perawat dengan anggota masyarakat lainnya.
b.      Hubungan antar-individu dalam sebuah masyarakat tersebut terbentuk dalam satu komunikasi yang saling ketergantungan (interdepensi).
c.       Menempati wilayah, baik dalam ukuran kecil maupun ukuran yang sangat luas.
                                                     
                                                      
d.      Adaptasi budaya. Kemampuan adaptasi budaya ini merupakan daya atau kekuatan internal masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan atau perubahan-perubahan social yang terjadi.
e.       Memiliki identitas. Komunitas atau golongan karena identitas adat dan lokasi misalnya komunitas Sunda dan komunitas Bali. Selain itu ada pula komunitas yang di ikat oleh identitas budaya. Dalam kebijakan pemerintah republik Indonesia, unsur masyarakat itu diwujudkan dalam SARAS (suku bangsa, agama, ras, antargolongan, seks).
f.       Kelompok perkumpulan secara fomal misalnya posyandu, karang taruna, dan kelurahan.

B. RumusanMasalah    
Manusia adalah makhluk multidimensional, yaitu sebagai personal/individual, social-komunal, dan spiritual-kosmological.

C. TujuanPenulisan
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam bidang sosiologi.

D. MetodePenulisan
Metode penulisan yang dipakai dalam makalah ini yaitu dengan mendapatkan materi dari buku dan menggunakan akses internet.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Masyarakat
Kehidupan yang berkolektif bukan hanya manusia, binatang pun ada yang memiliki pola kehidupan kolektif. Misalnya semut, belalang, kijang, sapi, lumba-lumba, dan sebagainya. Dengan  mempelajari kehidupan kolektif tersebut ada beberapa ciri yang dianggap sebagai ciri kehidupan kolektif. Namun, hanya manusia yang dianggap sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, kebutuhan, dan kebiasaan berkelompok. Hewan-hewan sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya hanya memiliki kebiasaan berkelompok dan tidak memiliki kesadaran berkelompok. Sementara manusia dengan dibekali akal pikiran serta rasa hati menunjukkan keunikan bahwa berkelompok itu merupakan satu kebutuhan. Oleh karena itu, manusia disebut socius (keluarga) atau homosocius (binatang berkelompok).
  Sebagai makhluk yang berkelompok, menurut Wheler (dalam Koentjaningrat, 2001 : 115) menunjukkan ciri khusus, yaitu (a) pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam sub-kesatuan atau golongan individu dalam kolektif untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup, (b) ketergantungan individu kepada individu lain dalam kolektif karena adanya pembagian kerja tadi, (c) kerja sama antar-individu yang disebabkan karena sifat ketergantungan tadi, (d) komunikasi antar-individu yang diperlukan antarwarga kolektif dan para individu dari luar.
Dalam mencermati asas-asas kehidupan kolektif ini, menurut Herbert Spencer, asas egoisme adalah mutlak penting untuk dapat bertahan di alam yang kejam. Asas egois tersebut adalah “mendahulukan kepentingan diri sendiri diatas kepentingan (orang) lain”. Dengan adanya asas egois itulah maka individu dapat bertahan. Pada konteks inilah, salah satu prinsip teori evolusi mendapat dukungan yang lebih kuat, yaitu seleksi alam, “siapa yang kuat dari seleksi alam maka dia akan bertahan”.
Pada sisi yang lain, kalangan ilmuan sosial memandang bahwa dalam kehidupan kelompok, asas alturisme merupakan asas yang mendukung bertahannya individu dalam kehidupan. Alturisme adalah asas berbakti untuk kepentingan orang lain, memiliki peran dan fungsi yang kuat untuk menjaga keharmonisan, keutuhan dan kebersamaan kelompoknya di alam. Karena itulah maka asas altruisme ini membentuknya adanya kerja sama dalam kolektif.
Manusia adalah makhluk hidup yang juga memiliki ciri kehidupan yang kolektif. Ada tiga kategori episode tingkah laku :
1.      Social episode,yaitu saat anak-anak bereaksi terhadap seseorang











BAB III
PENUTUP
3.1   Simpulan

Manusia adalah makhluk multi dimensional, yaitu sebagai personal/individual, social-komunial, dan spiritual-kosmological. Dari kehidupan ini, muncul konteks mikrokosmos( pribadi ) dan makrokosmos (alamsemesta ). Polaritas( pemilahan ) manusiaberanekaragam, yaitujasmani-rohani, sacral-profan, natural-nurture.

3.2           Saran
Kelompok kami memberikan saran agar kiranya Mahasiswa  STIKES EKA HARAP PALANGKA RAYA..khusus pada prodi  D III keperawatan ini lebih menggali dan mempelajari tentang berbagai hal yang terdapat dalam kesehatan terutama yang berkaitan dengan makhluk sebagai makhluk sosial, sehingga dapat dipergunakan pada waktu dan terjun ke masyarakat.












DAFTAR PUSTAKA

Bakar, Osman. 1994. Tauhid Dan Sains. Bandung: Pustaka Hidayah.
Abraham, Charles dan Eamon Shanley. 1997. Psikologi Sosial untuk Perawat. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar

☺ Thanks, udah berkunjung ☺